tentang ide

Dan aku tidak akan lagi percaya pada ide dari cerita-cerita lainnya

Senin, 09 April 2012

Kejutan Magis Danarto dalam Kacapiring



oleh Abimanyu Isranto[1]

            Danarto. Cukup singkat nama yang ia bubuhkan dalam karyanya yang berjudul Kacapiring. Bagi orang yang baru melihat sampul buku tersebut pastinya akan mengira cerpen-cerpen yang ditawarkan di dalamnya merupakan cerita-cerita yang romantis. Namun apabila telah membaca karyanya tersebut, sudah barang tentu mayoritas pembacanya akan bergidik membayangkan kejadian-kejadian yang coba dideskripsikan Danarto dalam cerita-ceritanya tersebut. Buku kumpulan cerpennya (Kacapiring) yang memiliki kira-kira 160 halaman itu sedikit banyak telah mengobrak-abrik ranah kewajaran berpikir saya.
          Kumpulan cerpen berjudul Kacapiring terdiri dari 18 cerpen, diantaranya berjudul “Jantung Hati”, “Lailatul Qadar”, “Kacapiring”, “Nistagmus”, “Lauk dari Langit”, “Ikan-Ikan dari Laut Merah”, “Pohon Rammbutan”, “O, Yerusalem”, “Pohon Zaqqum”, “Pantura”, dan “Bengawan Solo”. Rata-rata dari judul-judul tersebut telah mewakilkan akun setiap cerita, baik berupa benda maupun kejadiannya. Tak jarang judul-judul tersebut memberi tenaga yang lebih bagi kekuatan ceritanya.
          Lalu kalau ditanyakan, bagaimanakah realisme magis ala Danarto? Mungkin kata pertama yang keluar dari mulut saya adalah ”fantastis!”. Bagi saya, tak bisa diragukan lagi kapabilitas seorang Danarto yang kini dilabeli sebagai sastrawan pelopor realisme magis di Indonesia. Kepiawaiannya mengolah cerita menjadi sesuatu yang menakjubkan sekaligus menyeramkan sangatlah jitu. Selalu ada kejutan yang tak bisa kita pahami secara mudah dalam beberapa cerpennya. Ya, inilah realisme magis. Realisme magis berarti mencoba merealisasikan hal-hal magis—yang berada di luar jangkauan kelogisan pemikiran manusia ke dalam kehidupan nyata dalam cerita.
          Dalam cerita-ceritanya tersebut, Danarto tidak melulu menjadikan tokoh manusia sebagai tokoh sentral yang menuntun jalannya cerita. Dengan aliran realisme magis yang diusung, ia jauh lebih fleksibel memakai simbol-simbol kebendaan apapun menjadi hidup, yang mampu mengangkat sebuah cerita.
          Setelah membaca cerpen-cerpen Danarto dalam Kacapiring, saya membuat beberapa paradigma pribadi mengenai karakteristik aliran realisme magis ala Danarto. Pertama, Danarto mengemas ceritanya dengan berpijak pula pada keyakinan spiritualitas. Sangat kentara sekali sisi spiritualitas—terutama Islam yang mengemas kejadian-kejadian magis tersebut. Kedua, dalam beberapa cerita ia menjadikan sosok kyai yang dianggap masyarakat Indonesia juga sebagai orang sakti (disamping sebagai ahli agama) untuk menambah aura kemagisan di dalamnya. Kehadiran tokoh kyai pada beberapa cerita juga menjadi tolok ukur seorang kyai sebagai seorang penemu dan penunjuk solusi akan masalah kehidupan umat. Ketiga, apabila sentral ide terdapat pada simbol-simbol kebendaan, maka kemagisan bermuasal dari benda tersebut. Atau bisa dikatakan benda tersebutlah yang melatarbelakangi kejadian-kejadian magis dalam kehidupan.
          Hampir seluruh cerita tersebut memiliki amanat inti yang serupa, yakni ’apapun bisa saja terjadi di dunia ini’. Lebih dari itu, amanat yang hendak disampaikan ialah bagaimana kita sebagai manusia harus selalu bisa mensyukuri segala yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa terhadap kehidupan kita. Misalnya saja kutipan yang diambil dalam cerpen berjudul Jantung Hati berikut ini.

     Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tak berbatas, luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir. Terhadap kematian, sungguh seharusnya tidak diucapkan ikut berduka cita sedalam-dalamnya.[2]

Dari kutipan tersebut terlihat jelas Danarto mencoba menggambarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, yang dianggap buruk bagi orang lain, belum tentu buruk abgi diri kita. Dengan begitu kita akan senantiasa mensyukuri apapun kejadian yang akan menimpa pada diri kita.
          Kejadian-kejadian magis secara nyata mungkin belum pernah kita rasakan, namun dengan membaca karya Danarto, dapat memberikan kita sedikit kesiapan mental bila nantinya menemukan hal-hal magis serupa. Wawasan kegaiban kita yang mengering serasa diguyur air dingin setelah membaca karya Danarto.
          Kacapiring akan sedikit menyulitkan proses menikmati suatu karya bagi para pembaca awam. Untuk dapat menikmati karya Danarto ini, dianjurkan para pembaca untuk membuka jalan pikiran seluas-luasnya, berimajinasi segila mungkin dalam rangka mengimbangi deskripsi tulisan penulis dengan deskripsi visual yang pembaca buat sendiri.
          Kacapiring juga tidak cocok untuk diberikan kepada anak di bawah usia sekolah dasar sebagi bahan bacaan mereka. Kesulitan dalam mencari kenikmatan sebuah cerpen pastinya akan ditemukan oleh anak-anak usia pra-sekolah dasar dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang akan sulit dijawab juga oleh orang dewasa. Dengan begitu, karya Danarto ini lebih bersifat sebagai bacaan terbatas untuk orang-orang yang mampu membedakan logis dan magis.
          Dan terakhir, untuk para pembaca yang memiliki ketakutan akan dunia magis, saya sangat tidak menyarankan kalian membaca kumpulan cerpen Kacapiring dalam kondisi sunyi di sebuah ruangan yang redup, apalagi tengah malam.


[1] Mahasiswa Program Studi Indonesia FIB-UI angkatan 2010. Mulai tertarik pada aliran realisme magis sekitar awal tahun 2011.
[2] Danarto. 2008. Kacapiring. Banana: Jakarta, hlm.10.

Rabu, 04 April 2012

Narasi Perjalanan

"Narasi Perjalanan"

fajar sepintas berlalu
kita masih merengek mengadu
pada induk semang kita yang memperkenalkan dunia...
bernaung putih menatap hampa

kita rasakan komunal keluarga
rasa pahit manis tertanggung bersama
terikat hati terkait sukma
rasa jiwa raga menyatu selamanya

teriknya siang masih jua terasa
untuk kita resapi faedah hangatnya
'lah kita dapati bersama pula
segala semangat juang membara di angkasa

siang satu matahari terasa kurang
berganda matahari tak buahkan berang
buas menerjang sumber yang menghadang
biar isi kepala terang benderang

siapkah kita? pada asa cita dahulu kala
beramal mulia atas segala matahari dan sinarnya
siapkah kita? dengan idealisme masa muda
memorakporandakan durjana

kini sampai senja kita
jelang detik persiapan di pintu perubahan,
setelah kurun waktu lama terkurung aturan,
dari arena pijakan yang berubah jadi landasan

narasi perjalanan bukanlah angan-angan
narasi perjalanan bukanlah khayalan
narasi perjalanan bukanlah kenangan
ia bagian perjalanan yang kian panjang

Jakarta, 15 September 2011
ps: teristimewa untuk Kakak-Kakak yang hendak "terbang"

Senin, 02 April 2012

KREDO PROSA

untuk orang-orang yang meminta

    Mungkin para pembaca tulisan ini akan bingung sejenak karena judul yang terbaca: "Kredo Prosa". Kenapa bukan kredo puisi? Bukankah prosa itu sudah sangat bebas untuk dibuat tanpa perlu "pembelaan"--mungkin pembelaan atas harmonisasi alur masih dianggap perlu. Namun kredo terhadap pemakaian nama tokoh, inspirasi cerita itu dalam pikiran penulis adalah hal yang sangat kurang perlu. Untuk apa lagi menanyakan kebenaran dari cerita fiksi?

    Di dalam prosa--dalam hal ini cerita pendek, unsur yang dikedepakan ialah fiksi. Adapun penggunaan fakta berupa latar, kesamaan tokoh dan kesamaan cerita dengan kehidupan nyata tidak perlu digugat. Sebab akan sia-sia menggugat sesuatu yang sudah tergolong ke dalam fiksi. Lain soal bila yang dihadapi ialah teks berita. Yang disajikan dalam berita itu sudah seharusnya memberikan informasi kepada pembaca yang bernialai kebenaran seutuhnya tanpa boleh dicampuri lagi imajinasi si pembuat. Maka dalam tataran berita, pembenaran atau ralat terhadap sesuatu yang salah merupakan hal yang penting.
    Sudah seharusnya kita ketahui bahwa yang dinamakan sebagai "fakta" haruslah dapat dibuktikan dengan pancaindera. Sementara bila berbicara tentang fiksi, unsur-unsur yang ada di dalamnya sanagat mungkin dari sesuatu yang fakta, namun olahan berupa kreativitas dan imajinasi penulis yang dicampur-baurkan ke dalam fakta tidak bisa lagi dikatakan sebagai fakta. Ia fiksi, dan hanya akan fiksi meskipun berawal dari fakta.
    Jangan pula kita lupa bahwa karya sastra dapat dikatakan sebagai bentuk refleksi atas kehidupan yang terjadi di sekeliling penulis atau pengarang. Akan tetapi, lagi-lagi refleksi itu sudah "dicemari" campuran-campuran lain--yakni kreativitas dan imajinasi. Sehingga ketika kita bertindak sebagai pembaca yang baik, pikiran bahwa tokoh dalam cerita yang disajikan adalah murni pengarang itu sendiri patutlah dibuang jauh-jauh. Ada baiknya cerita itu dipandang dari segala kemungkinanan yang positif, seperti melihat tema, dan pesan-pesan tersembunyi di dalamnya, sehingga meminimalkan label negatif yang tidak perlu dalam hasil karya.
   Sebagai contoh, bahwa awal tahun 2012 kita dihebohkan oleh kasus penabrakan yang dilakukan oleh tersangka Afriyani. Hal itu merupakan fakta, yang terdapat rekam jejaknya, ada saksi dan jelas ada koban penabrakannya. Lalu misalkan penulis membuat cerpen berjudul "Wanita yang Dipersalahkan" dengan ciri-ciri dan kejadian yang hampir sama dengan kasus penabrakan tersebut, sangat mungkin pembaca berasosiasi pada kasus itu. Namun, cerita yang diciptakan itu ialah hasil dari proses kreatif dan imajinasi pembuatnya, dan pada akhirnya sah-sah saja mengambil fakta sebagai bahan untuk dikonversi menjadi fiksi.

Ballada Orang-orang Tersesat



Ribuan hasta jaraknya darimu bukanlah hal yang patut disesalkan. Kita memang belum bersama, belum punya alasan untuk harus selalu ada di sisi satu sama lain. Halnya Tuhan dengan ciptaan-Nya. Tuhan pun masih dapat kita temui dalam sudut di jasad ini, kita temui dalam rasa batin. Kau bisa temui aku di salah satu ruang terbaik tubuhmu dalam berkasih-kasihan, dalam mencinta. Aku juga begitu. 

Kini, di saat malam hendak berganti, ketika malam mau pergi jauh untuk kembali lagi nanti. Kita cukup keras satu sama lain. Aku adalah aku, kau adalah kau. Belum lagi jadi aku kau yang hanya kita temui saat bertemu. Kita dilarutkan pada percakapan yang mengiris. Aku teriris jadi seribu, kuanggap kau baru lampaui seratus bagian potongan yang kupunya. 

Kau bawa aku menerka sosok-sosok yang aku ludahi dalam bayangku. Aku pasang tembok panjang berliku, mengelak-elak dengan elok, pikirku. Aku bukan kau dalam begitu. Aku muak dengan mereka, kadang denganmu. Muak karena kau bukan satu barang yang bisa dikehendaki sesukaku, kau juga manusia yang punya hidup di luar denganku.

Sengit adalah percakapan itu dan malam yang menyelimutinya. Kita adukan pengalaman dan perasaan menjadi sesuatu yang amat tajam. Kau terbiasa memegang pisau, aku sudah terlatih dengan parang. Hidup ini rimba raya, bukan? Ada yang perlu dipangkas segera. Pangkas saja semua diluar kita! Kau bilang mereka punya hidup, tapi apa hidup mereka berpengaruh pada angkasa kita? Aku tak mau lagi bicara seakan-akan kita dewasa. Kupikir kau sudah lelah jadi si kecil yang tersakiti batinnya, kau lebih suka jadi dewasa di tengah orang dewasa lainnya.

Kita punya impian: bersama. Sejenak pangkaslah halmu, kutebas halku. Aku tidak bicara seolah kita benar-benar dewasa. Aku ingin pastikan kau masih punya angkasa yang ditinggal anak kecil beranjak remaja, remaja beranjak dewasa dan tua, mati. Mati. Tanpa punya angkasa, jadi tak punya kita.

19.3.2012

Senin, 09 Januari 2012

Darimana Cinta Datang?


Cinta...
Lalu pandangan mengabur...
tak kenal ayah bunda...
sanak saudara lupa...
yang teringat hanya Dia

Kenapa orang mencibir?
bukankah sama-sama kita mencintanya?
Dia datang padaku
mungkin padamu, pada kalian juga

aku hanya diam
sedikit bergerak dipermainkan kalam
dijerembabkan takdir
Dia, aku melihatnya
Cinta

Jakarta, 8 Januari 2012


Selasa, 13 Desember 2011

Prolog: “Menyusun” Montrase untuk Kehidupan



Manusia dan Dunia adalah dwi-tunggal yang saling membangun satu sama lain. Mereka diikat dengan kehidupan. Kehidupan yang berjalan, bergulir, serta berdinamika menjadikan manusia dewasa saat mengevaluasi dirinya. Manusia bisa menjadi subjek dan objek kehidupan. Terkadang manusia (sebagai subjek) bisa mengatur kehidupannya dengan sangat terencana, dan terkadang –karena keterbatasannya- manusia (sebagai objek) diatur oleh kehidupannya.
Perjalanan kehidupan manusia merupakan potongan mozaik atau bisa disebut sebagai montrase. Montrase dapat kita susun menjadi sesuatu yang indah tatkala kita mampu mengatur letaknya. Namun, montrase akan tetap jadi montrase andai saja manusia tak tahu apa yang mesti dilakukannya pada montrase itu.
Montrase tidak hanya berarti untuk sesuatu yang telah lampau. Bukan hanya masa lalu. Secara lebih luas, montrase kehidupan manusia juga meliputi proses terjadinya suatu peristiwa atau proses penciptaan suatu karya, serta masa depan dan harapan-harapan idealis manusia akan kehidupannya di masa yang akan datang.
Pada kehidupan masa lampau yang membentuk sebuah montrase, terkandung di dalamnya sebuah emosi dan perasaan yang melekat pada seorang manusia ketika melakukan kilas balik. Emosi dan perasaan yang dirasa berpusat pada hati, menjadikan montrase sebagai suatu hal yang berharga. Hingga pada akhirnya manusia mampu belajar merasakan dari pengalaman hidupnya, bukan untuk memikirkannya.
Terlepas dari kehidupan masa lampau, manusia yang menjalani kehidupannya semakin lama melewati fase yang lebih matang dari sebelumnya. Baik dalam berpikir, merasakan, maupun bertindak. Dalam usaha yang sedikit banyak dipengaruhi oleh trauma kesalahan masa lalu, terjadi pergolakan di dalamnya. Pada titik inilah montrase dibentuk berkat proses kehidupan manusia.
Saat menjalani suatu proses kehidupan, manusia berimajinasi akan sesuatu hal yang ingin ia raih di masa depan. Harapan akan suatu hal, entah harapan akan kehidupan materi ataupun harapan akan cinta-kasih-sayang yang ia dambakan selama ini. Harapan-harapan itu merupakan bagian dari proses dan lagi-lagi membentuk sebuah montrase. Akan tetapi dominasi emosi hati yang manusia berikan pada harapan-harapan itu ialah kesenangan. Tentunya sangat jarang sekali orang yang berharap akan kesialan dan kesusahan hidup di masa yang akan datang. 
Hati manusia memancarkan segala perasaan yang ada dalam dirinya, membalut kehidupan masa lampau, proses dan harapan, serta mengaktualisasikannya menjadi montrase yang kompleks dan berpengaruh besar bagi peradaban manusia selama ini.
Montrase Hati dipilih sebagai judul antologi puisi pertama saya, saya rasa sangat mewakili perasaan dan gairah saya dalam melewati kehidupan. Perasaan dan gairah dalam melewati kehidupan itu yang akhirnya menghasilkan karya sastra dalam bentuk puisi. Puisi-puisi yang tersaji dalam Montrase Hati merupakan sketsa kecil dari penggambaran proses kehidupan yang telah saya alami.
Dengan membaca Montrase Hati para pembaca juga akan merasakan suatu proses yang terjadi pada perkembangan penulisan puisi yang saya lakukan. Semuanya terasa begitu alami melewati proses-proses yang membentuk berjuta-juta montrase dalam kehidupan saya.
Secara garis besar, puisi-puisi dalam Montrase Hati menggambarkan sudut pandang seorang laki-laki terhadap dunianya. Puisi-puisi tersebut menyentuh masalah sehari-hari sebagai proses yang membentuk karakter sesorang. Tak dapat dipungkiri, seorang laki-laki akan mendapatkan pengaruh yang besar dari wanita, harta dan tahta. Ketiga pengaruh itulah yang membuat dinamika pada diri seorang laki-laki. Bahkan terkadang seorang lelaki bertindak bukan atas dasar kemauannya sendiri, melainkan didasari oleh ketiga hal tersebut. Oleh karena itulah, antologi puisi ini ada, juga untuk para lelaki yang sering khilaf gerak-geriknya.
A. Isranto
Jakarta, April 2011

“Asap dan Kamar Mandi”


oleh Abimanyu Isranto
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Suasana rumah sudah sangat sunyi. Ya, rumahku yang pada siang hari ramai oleh teriakan dan gurauan saudara-saudaraku pada akhirnya merasakan tenangnya juga di malam hari. Saking sunyi, senyap, suara pergerakkan jarum jam di ruang tamu pun terdengar jelas dan teratur di telinga. Tik tak tik tak tik tak... 
Angin berhembus dari sela-sela ventilasi udara kamarku. Amat kencang sampai-sampai bulu kudukku berdiri. Sebab angin malam ini pula aku merasakan perutku bergejolak. 
Hadeeh, udah malem jelang pagi gini aja masih bisa mules ente. Gak bisa diajak kompromi banget dah ah lu!”, aku menggerutu pada perutku sendiri. Gejolak perut yang tadinya masih dalam batas wajar, kini mulai menekan ke segala arah. Seperti ingin dimuntahkan saja segala isinya ke lantai. Aih, aku buru-buru beranjak dari kamar tidur menuju kamar mandi.
Aku memilih kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah, dekat dapur. Di sanalah ketenangan buang air dapat kurasakan, terkadang ada saja pemikiran-pemikiran brilian yang muncul selepas berkutat masalah perut di sana. Tetesan air yang berirama membawa suasana makin syahdu. Berdinding keramik-keramik tua berwarna biru laut yang khas menjadikannya sebagai terapi mataku juga dikala suntuk. Dan alasan lainnya ialah karena kloset kamar mandinya jongkok. Cocok betul untuk ukuran orang-orang Asia sepertiku. Hahaha.
Setelah membuka seluruh pakaian bawah yang menempel, kini posisiku sudah mantap untuk melakukan pelepasan. Aku baru ingat sudah tiga hari aku tidak melakukannya. Maklum, saking sibuknya bermacet-macet ria di jalanan ibukota dengan polusi di mana-mana, membuat sedikit banyak ampas-ampas di dalam perutku bertransformasi menjadi gas yang busuk.
Pekerjaan ini menjadi tidak lagi mudah dan senyaman yang kukira. Percobaan pertamaku gagal. Kalau kata teman-temanku di salah satu milis ternama, aku pasti dibilang ”gagal pertamax, Gan!”. Maka aku tak mau gagal untuk percobaan kedua. Aku memulainya dengan menarik napas panjang. Cara ini terbilang ampuh untuk saat-saat menyusahkan seperti sekarang. 
Perlahan aku berkonsentrasi membuat sebuah titik pandang di antara warna keramik yang membiru laut. Lalu dengan tangan yang sembari memijit-mijit perlahan perutku, aku mulai memfungsikan pernapasan perut. Bagiku ini akan lebih mengena bagi perut yang tak mau diajak kompromi. Pemicu akibat pernapasan itu membuat perutku bergejolak, terombang-ambing, berkontraksi, bahkan berkonfrontasi dengan anggota tubuhku yang lain.
Tak ketinggalan pula erangan sekuat tenaga dan seikhlas hati kukeluarkan dari mulut, ”Eeeeee’!”. Dan... Plossshhhh. Ledakkan eksplosif pertama telah berhasil kukeluarkan dengan susah payah. Rasa lega dan puas sedang menghiasi wajahku, sama seperti wajah Sekutu saat berhasil membom atom Hiroshima dan Nagasaki. Haaaaah. Lega. Benar-benar lega.
Ledakan kuat-bertenaga itu kurasakan terlalu berlebihan sampai-sampai membuatku merasa pusing. Dalam kepusingan dan posisi yang masih berjongkok, aku mencoba memejamkan mataku sejenak, menyandarkan kepalaku pada tanganku yang menyilang di atas lutut, lalu tanpa bisa sadar aku pingsan dalam keadaan jongkok.


***


Aku terbangun beberapa saat setelah kepusingan tadi. Aku masih merasakan sedikit pusing, meskipun perutku sudah damai sentosa. Napasku tersedak tatkala melihat asap-asap tebal masuk melewati celah-celah pintu kamar mandi.
Dengan cekatan aku mengambil gayung untuk membersihkan hadas-hadas yang mungkin masih tertinggal di sekitar anusku. Setengah terburu-buru aku mencoba meraih celanaku yang kusampirkan di pintu kamar mandi. Aku memakainya agak asal-asalan sebab tak tahan dengan asap yang mulai mengitari ruangan sempit ini.
Dugdugdugdug! Aku mencoba membuka pintu, tapi pintu sulit sekali terbuka. Aku kembali mengerang saat mendobrak pintu dengan paksa, hasilnya, pintu terbuka hingga terlepas dari engselnya. Aku terperosok ke atas pintu yang terjatuh. Asap-asap mengepul, abu-abu beterbangan ke mana-mana akibat ulah dobrak paksa yang kulakukan.
”Uhuk-uhuk! Huek!”, aku terbatuk-batuk hampir muntah, tak kuat rasanya menahan asap bercampur abu yang masuk melalui area pernapasanku. Sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung, aku mulai bangkit. Aku mulai melihat sekitar. ”Innalillahi! ”, teriakku dalam hati. Tiada lagi tembok-tembok pembatas yang membelah antara ruangan di rumahku dengan jalan. Terlihat samar-samar ratusan orang berjejal mengitari rumahku.
Kepalaku yang tadinya hanya mengarah pada satu sudut pandang, dengan hati-hati mengamati keadaan sekitarku berlawanan dengan arah jarum jam. Kulihat memang tidak ada lagi pembatas, tembok-tembok rumahku roboh semua. Kecuali satu yang masih utuh. Ya, kamar mandi yang sempat aku pakai tadi, hanya itu.
Jantungku berdetak kencang menyadari keadaan ini. Setengah menit kemudian aku terkesiap, mulai kalap mencari orang-orang rumah. Ayah, ibu, serta adik-adikku. Dalam reruntuhan aku mencari mereka. Namun semuanya hanya abu, abu, dan abu lagi. Aku menyingkirkan material-material bangunan yang hangus demi mencari secercah harapan, atau barangkali tanda-tanda kehidupan.
Betul saja, aku menemukan tangan, sepertinya tangan ibu. Aku pegang erat-erat lalu kutarik. Hah! Setengah duduk karena terpental aku masih memegangi tangan tanpa badan itu. Ku pandangi betul-betul tangan itu, dari ujung kuku yang menggosong hingga pada bagian siku yang meneteskan darah. Semangatku mencari harapan-harapan terhadap keluargaku yang lain pupus seketika. Inilah kekalahan telak dalam hidupku setelah kehilangan segalanya. Seorang prajurit yang telah dilucuti senjatanya dan harus kehilangan rekan-rekan serta komandannya dalam perang adalah aku.
Jakarta, 20 Maret 2011

Bila malam belum habis

"aku akan terus menulis
bukan karena semata-mata
keinginanku sendiri
melainkan karena tuntutan
jiwaku untuk terus dan tetap
mewarnai setiap jengkal
dunia sastra

:aku berpijak di sana"