tentang ide

Dan aku tidak akan lagi percaya pada ide dari cerita-cerita lainnya
Tampilkan postingan dengan label antologi puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antologi puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2012

Narasi Perjalanan

"Narasi Perjalanan"

fajar sepintas berlalu
kita masih merengek mengadu
pada induk semang kita yang memperkenalkan dunia...
bernaung putih menatap hampa

kita rasakan komunal keluarga
rasa pahit manis tertanggung bersama
terikat hati terkait sukma
rasa jiwa raga menyatu selamanya

teriknya siang masih jua terasa
untuk kita resapi faedah hangatnya
'lah kita dapati bersama pula
segala semangat juang membara di angkasa

siang satu matahari terasa kurang
berganda matahari tak buahkan berang
buas menerjang sumber yang menghadang
biar isi kepala terang benderang

siapkah kita? pada asa cita dahulu kala
beramal mulia atas segala matahari dan sinarnya
siapkah kita? dengan idealisme masa muda
memorakporandakan durjana

kini sampai senja kita
jelang detik persiapan di pintu perubahan,
setelah kurun waktu lama terkurung aturan,
dari arena pijakan yang berubah jadi landasan

narasi perjalanan bukanlah angan-angan
narasi perjalanan bukanlah khayalan
narasi perjalanan bukanlah kenangan
ia bagian perjalanan yang kian panjang

Jakarta, 15 September 2011
ps: teristimewa untuk Kakak-Kakak yang hendak "terbang"

Selasa, 13 Desember 2011

Prolog: “Menyusun” Montrase untuk Kehidupan



Manusia dan Dunia adalah dwi-tunggal yang saling membangun satu sama lain. Mereka diikat dengan kehidupan. Kehidupan yang berjalan, bergulir, serta berdinamika menjadikan manusia dewasa saat mengevaluasi dirinya. Manusia bisa menjadi subjek dan objek kehidupan. Terkadang manusia (sebagai subjek) bisa mengatur kehidupannya dengan sangat terencana, dan terkadang –karena keterbatasannya- manusia (sebagai objek) diatur oleh kehidupannya.
Perjalanan kehidupan manusia merupakan potongan mozaik atau bisa disebut sebagai montrase. Montrase dapat kita susun menjadi sesuatu yang indah tatkala kita mampu mengatur letaknya. Namun, montrase akan tetap jadi montrase andai saja manusia tak tahu apa yang mesti dilakukannya pada montrase itu.
Montrase tidak hanya berarti untuk sesuatu yang telah lampau. Bukan hanya masa lalu. Secara lebih luas, montrase kehidupan manusia juga meliputi proses terjadinya suatu peristiwa atau proses penciptaan suatu karya, serta masa depan dan harapan-harapan idealis manusia akan kehidupannya di masa yang akan datang.
Pada kehidupan masa lampau yang membentuk sebuah montrase, terkandung di dalamnya sebuah emosi dan perasaan yang melekat pada seorang manusia ketika melakukan kilas balik. Emosi dan perasaan yang dirasa berpusat pada hati, menjadikan montrase sebagai suatu hal yang berharga. Hingga pada akhirnya manusia mampu belajar merasakan dari pengalaman hidupnya, bukan untuk memikirkannya.
Terlepas dari kehidupan masa lampau, manusia yang menjalani kehidupannya semakin lama melewati fase yang lebih matang dari sebelumnya. Baik dalam berpikir, merasakan, maupun bertindak. Dalam usaha yang sedikit banyak dipengaruhi oleh trauma kesalahan masa lalu, terjadi pergolakan di dalamnya. Pada titik inilah montrase dibentuk berkat proses kehidupan manusia.
Saat menjalani suatu proses kehidupan, manusia berimajinasi akan sesuatu hal yang ingin ia raih di masa depan. Harapan akan suatu hal, entah harapan akan kehidupan materi ataupun harapan akan cinta-kasih-sayang yang ia dambakan selama ini. Harapan-harapan itu merupakan bagian dari proses dan lagi-lagi membentuk sebuah montrase. Akan tetapi dominasi emosi hati yang manusia berikan pada harapan-harapan itu ialah kesenangan. Tentunya sangat jarang sekali orang yang berharap akan kesialan dan kesusahan hidup di masa yang akan datang. 
Hati manusia memancarkan segala perasaan yang ada dalam dirinya, membalut kehidupan masa lampau, proses dan harapan, serta mengaktualisasikannya menjadi montrase yang kompleks dan berpengaruh besar bagi peradaban manusia selama ini.
Montrase Hati dipilih sebagai judul antologi puisi pertama saya, saya rasa sangat mewakili perasaan dan gairah saya dalam melewati kehidupan. Perasaan dan gairah dalam melewati kehidupan itu yang akhirnya menghasilkan karya sastra dalam bentuk puisi. Puisi-puisi yang tersaji dalam Montrase Hati merupakan sketsa kecil dari penggambaran proses kehidupan yang telah saya alami.
Dengan membaca Montrase Hati para pembaca juga akan merasakan suatu proses yang terjadi pada perkembangan penulisan puisi yang saya lakukan. Semuanya terasa begitu alami melewati proses-proses yang membentuk berjuta-juta montrase dalam kehidupan saya.
Secara garis besar, puisi-puisi dalam Montrase Hati menggambarkan sudut pandang seorang laki-laki terhadap dunianya. Puisi-puisi tersebut menyentuh masalah sehari-hari sebagai proses yang membentuk karakter sesorang. Tak dapat dipungkiri, seorang laki-laki akan mendapatkan pengaruh yang besar dari wanita, harta dan tahta. Ketiga pengaruh itulah yang membuat dinamika pada diri seorang laki-laki. Bahkan terkadang seorang lelaki bertindak bukan atas dasar kemauannya sendiri, melainkan didasari oleh ketiga hal tersebut. Oleh karena itulah, antologi puisi ini ada, juga untuk para lelaki yang sering khilaf gerak-geriknya.
A. Isranto
Jakarta, April 2011

Senin, 29 November 2010

"penglihatan dalam kutip"

aku menatap miris
pada seorang yang kubilang
tinggal seonggok 
tulang berbalut kulit

matanya kosong tak berisi,
hanya sebatas hitam pekat 
mungkin abuabu
setitik;
fisiknya melegam 
serupa metal baja
belum ditempa

aku merinding
tatkala desir angin
menggerayang punggung
: malaikat tanpa cahaya
menyeret rantairantai tebal
menyala,
nafasnya makin tersengal;
seperti dihirup setengah bagian

bukan yang pertama kumenyaksikan
tapi
ini yang terseram:
                               sunyi sendiri;
                   sepi melankoli;
senyap megapmegap
sejengkal jaraknya,
akhirnya

tak ditemui asa
berjumpa diharapnya
malaikat itu
: tanpa cahaya atau buruk rupa;
 egois bermain sendiri
 dengan nyawa takkenal peniupnya
 nikmat beroleh berkat baginya

kejam siapa:
manusia dalam cahaya
                                      atau
malaikat tanpa cahaya

Kebon Singkong, 17 Nov 2010

Bila malam belum habis

"aku akan terus menulis
bukan karena semata-mata
keinginanku sendiri
melainkan karena tuntutan
jiwaku untuk terus dan tetap
mewarnai setiap jengkal
dunia sastra

:aku berpijak di sana"