"Narasi Perjalanan"
fajar sepintas berlalu
kita masih merengek mengadu
pada induk semang kita yang memperkenalkan dunia...
bernaung putih menatap hampa
kita rasakan komunal keluarga
rasa pahit manis tertanggung bersama
terikat hati terkait sukma
rasa jiwa raga menyatu selamanya
teriknya siang masih jua terasa
untuk kita resapi faedah hangatnya
'lah kita dapati bersama pula
segala semangat juang membara di angkasa
siang satu matahari terasa kurang
berganda matahari tak buahkan berang
buas menerjang sumber yang menghadang
biar isi kepala terang benderang
siapkah kita? pada asa cita dahulu kala
beramal mulia atas segala matahari dan sinarnya
siapkah kita? dengan idealisme masa muda
memorakporandakan durjana
kini sampai senja kita
jelang detik persiapan di pintu perubahan,
setelah kurun waktu lama terkurung aturan,
dari arena pijakan yang berubah jadi landasan
narasi perjalanan bukanlah angan-angan
narasi perjalanan bukanlah khayalan
narasi perjalanan bukanlah kenangan
ia bagian perjalanan yang kian panjang
Jakarta, 15 September 2011
ps: teristimewa untuk Kakak-Kakak yang hendak "terbang"
tentang ide
Dan aku tidak akan lagi percaya pada ide dari cerita-cerita lainnya
Rabu, 04 April 2012
Senin, 02 April 2012
KREDO PROSA
untuk orang-orang yang meminta
Di dalam prosa--dalam hal ini cerita pendek, unsur yang dikedepakan ialah fiksi. Adapun penggunaan fakta berupa latar, kesamaan tokoh dan kesamaan cerita dengan kehidupan nyata tidak perlu digugat. Sebab akan sia-sia menggugat sesuatu yang sudah tergolong ke dalam fiksi. Lain soal bila yang dihadapi ialah teks berita. Yang disajikan dalam berita itu sudah seharusnya memberikan informasi kepada pembaca yang bernialai kebenaran seutuhnya tanpa boleh dicampuri lagi imajinasi si pembuat. Maka dalam tataran berita, pembenaran atau ralat terhadap sesuatu yang salah merupakan hal yang penting.
Sudah seharusnya kita ketahui bahwa yang dinamakan sebagai "fakta" haruslah dapat dibuktikan dengan pancaindera. Sementara bila berbicara tentang fiksi, unsur-unsur yang ada di dalamnya sanagat mungkin dari sesuatu yang fakta, namun olahan berupa kreativitas dan imajinasi penulis yang dicampur-baurkan ke dalam fakta tidak bisa lagi dikatakan sebagai fakta. Ia fiksi, dan hanya akan fiksi meskipun berawal dari fakta.
Jangan pula kita lupa bahwa karya sastra dapat dikatakan sebagai bentuk refleksi atas kehidupan yang terjadi di sekeliling penulis atau pengarang. Akan tetapi, lagi-lagi refleksi itu sudah "dicemari" campuran-campuran lain--yakni kreativitas dan imajinasi. Sehingga ketika kita bertindak sebagai pembaca yang baik, pikiran bahwa tokoh dalam cerita yang disajikan adalah murni pengarang itu sendiri patutlah dibuang jauh-jauh. Ada baiknya cerita itu dipandang dari segala kemungkinanan yang positif, seperti melihat tema, dan pesan-pesan tersembunyi di dalamnya, sehingga meminimalkan label negatif yang tidak perlu dalam hasil karya.
Sebagai contoh, bahwa awal tahun 2012 kita dihebohkan oleh kasus penabrakan yang dilakukan oleh tersangka Afriyani. Hal itu merupakan fakta, yang terdapat rekam jejaknya, ada saksi dan jelas ada koban penabrakannya. Lalu misalkan penulis membuat cerpen berjudul "Wanita yang Dipersalahkan" dengan ciri-ciri dan kejadian yang hampir sama dengan kasus penabrakan tersebut, sangat mungkin pembaca berasosiasi pada kasus itu. Namun, cerita yang diciptakan itu ialah hasil dari proses kreatif dan imajinasi pembuatnya, dan pada akhirnya sah-sah saja mengambil fakta sebagai bahan untuk dikonversi menjadi fiksi.
Ballada Orang-orang Tersesat
Ribuan hasta jaraknya darimu bukanlah hal yang patut disesalkan. Kita memang belum bersama, belum punya alasan untuk harus selalu ada di sisi satu sama lain. Halnya Tuhan dengan ciptaan-Nya. Tuhan pun masih dapat kita temui dalam sudut di jasad ini, kita temui dalam rasa batin. Kau bisa temui aku di salah satu ruang terbaik tubuhmu dalam berkasih-kasihan, dalam mencinta. Aku juga begitu.
Kini, di saat malam hendak berganti, ketika malam mau pergi jauh untuk kembali lagi nanti. Kita cukup keras satu sama lain. Aku adalah aku, kau adalah kau. Belum lagi jadi aku kau yang hanya kita temui saat bertemu. Kita dilarutkan pada percakapan yang mengiris. Aku teriris jadi seribu, kuanggap kau baru lampaui seratus bagian potongan yang kupunya.
Kau bawa aku menerka sosok-sosok yang aku ludahi dalam bayangku. Aku pasang tembok panjang berliku, mengelak-elak dengan elok, pikirku. Aku bukan kau dalam begitu. Aku muak dengan mereka, kadang denganmu. Muak karena kau bukan satu barang yang bisa dikehendaki sesukaku, kau juga manusia yang punya hidup di luar denganku.
Sengit adalah percakapan itu dan malam yang menyelimutinya. Kita adukan pengalaman dan perasaan menjadi sesuatu yang amat tajam. Kau terbiasa memegang pisau, aku sudah terlatih dengan parang. Hidup ini rimba raya, bukan? Ada yang perlu dipangkas segera. Pangkas saja semua diluar kita! Kau bilang mereka punya hidup, tapi apa hidup mereka berpengaruh pada angkasa kita? Aku tak mau lagi bicara seakan-akan kita dewasa. Kupikir kau sudah lelah jadi si kecil yang tersakiti batinnya, kau lebih suka jadi dewasa di tengah orang dewasa lainnya.
Kita punya impian: bersama. Sejenak pangkaslah halmu, kutebas halku. Aku tidak bicara seolah kita benar-benar dewasa. Aku ingin pastikan kau masih punya angkasa yang ditinggal anak kecil beranjak remaja, remaja beranjak dewasa dan tua, mati. Mati. Tanpa punya angkasa, jadi tak punya kita.
19.3.2012
Senin, 09 Januari 2012
Darimana Cinta Datang?
Cinta...
Lalu pandangan mengabur...
tak kenal ayah bunda...
sanak saudara lupa...
yang teringat hanya Dia
Kenapa orang mencibir?
bukankah sama-sama kita mencintanya?
Dia datang padaku
mungkin padamu, pada kalian juga
aku hanya diam
sedikit bergerak dipermainkan kalam
dijerembabkan takdir
Dia, aku melihatnya
Cinta
Jakarta, 8 Januari 2012
Selasa, 13 Desember 2011
Prolog: “Menyusun” Montrase untuk Kehidupan
Manusia dan Dunia adalah dwi-tunggal yang saling membangun satu sama lain. Mereka diikat dengan kehidupan. Kehidupan yang berjalan, bergulir, serta berdinamika menjadikan manusia dewasa saat mengevaluasi dirinya. Manusia bisa menjadi subjek dan objek kehidupan. Terkadang manusia (sebagai subjek) bisa mengatur kehidupannya dengan sangat terencana, dan terkadang –karena keterbatasannya- manusia (sebagai objek) diatur oleh kehidupannya.
Perjalanan kehidupan manusia merupakan potongan mozaik atau bisa disebut sebagai montrase. Montrase dapat kita susun menjadi sesuatu yang indah tatkala kita mampu mengatur letaknya. Namun, montrase akan tetap jadi montrase andai saja manusia tak tahu apa yang mesti dilakukannya pada montrase itu.
Montrase tidak hanya berarti untuk sesuatu yang telah lampau. Bukan hanya masa lalu. Secara lebih luas, montrase kehidupan manusia juga meliputi proses terjadinya suatu peristiwa atau proses penciptaan suatu karya, serta masa depan dan harapan-harapan idealis manusia akan kehidupannya di masa yang akan datang.
Pada kehidupan masa lampau yang membentuk sebuah montrase, terkandung di dalamnya sebuah emosi dan perasaan yang melekat pada seorang manusia ketika melakukan kilas balik. Emosi dan perasaan yang dirasa berpusat pada hati, menjadikan montrase sebagai suatu hal yang berharga. Hingga pada akhirnya manusia mampu belajar merasakan dari pengalaman hidupnya, bukan untuk memikirkannya.
Terlepas dari kehidupan masa lampau, manusia yang menjalani kehidupannya semakin lama melewati fase yang lebih matang dari sebelumnya. Baik dalam berpikir, merasakan, maupun bertindak. Dalam usaha yang sedikit banyak dipengaruhi oleh trauma kesalahan masa lalu, terjadi pergolakan di dalamnya. Pada titik inilah montrase dibentuk berkat proses kehidupan manusia.
Saat menjalani suatu proses kehidupan, manusia berimajinasi akan sesuatu hal yang ingin ia raih di masa depan. Harapan akan suatu hal, entah harapan akan kehidupan materi ataupun harapan akan cinta-kasih-sayang yang ia dambakan selama ini. Harapan-harapan itu merupakan bagian dari proses dan lagi-lagi membentuk sebuah montrase. Akan tetapi dominasi emosi hati yang manusia berikan pada harapan-harapan itu ialah kesenangan. Tentunya sangat jarang sekali orang yang berharap akan kesialan dan kesusahan hidup di masa yang akan datang.
Hati manusia memancarkan segala perasaan yang ada dalam dirinya, membalut kehidupan masa lampau, proses dan harapan, serta mengaktualisasikannya menjadi montrase yang kompleks dan berpengaruh besar bagi peradaban manusia selama ini.
Montrase Hati dipilih sebagai judul antologi puisi pertama saya, saya rasa sangat mewakili perasaan dan gairah saya dalam melewati kehidupan. Perasaan dan gairah dalam melewati kehidupan itu yang akhirnya menghasilkan karya sastra dalam bentuk puisi. Puisi-puisi yang tersaji dalam Montrase Hati merupakan sketsa kecil dari penggambaran proses kehidupan yang telah saya alami.
Dengan membaca Montrase Hati para pembaca juga akan merasakan suatu proses yang terjadi pada perkembangan penulisan puisi yang saya lakukan. Semuanya terasa begitu alami melewati proses-proses yang membentuk berjuta-juta montrase dalam kehidupan saya.
Secara garis besar, puisi-puisi dalam Montrase Hati menggambarkan sudut pandang seorang laki-laki terhadap dunianya. Puisi-puisi tersebut menyentuh masalah sehari-hari sebagai proses yang membentuk karakter sesorang. Tak dapat dipungkiri, seorang laki-laki akan mendapatkan pengaruh yang besar dari wanita, harta dan tahta. Ketiga pengaruh itulah yang membuat dinamika pada diri seorang laki-laki. Bahkan terkadang seorang lelaki bertindak bukan atas dasar kemauannya sendiri, melainkan didasari oleh ketiga hal tersebut. Oleh karena itulah, antologi puisi ini ada, juga untuk para lelaki yang sering khilaf gerak-geriknya.
A. Isranto
Jakarta, April 2011
“Asap dan Kamar Mandi”
oleh Abimanyu Isranto
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Suasana rumah sudah sangat sunyi. Ya, rumahku yang pada siang hari ramai oleh teriakan dan gurauan saudara-saudaraku pada akhirnya merasakan tenangnya juga di malam hari. Saking sunyi, senyap, suara pergerakkan jarum jam di ruang tamu pun terdengar jelas dan teratur di telinga. Tik tak tik tak tik tak...
Angin berhembus dari sela-sela ventilasi udara kamarku. Amat kencang sampai-sampai bulu kudukku berdiri. Sebab angin malam ini pula aku merasakan perutku bergejolak.
”Hadeeh, udah malem jelang pagi gini aja masih bisa mules ente. Gak bisa diajak kompromi banget dah ah lu!”, aku menggerutu pada perutku sendiri. Gejolak perut yang tadinya masih dalam batas wajar, kini mulai menekan ke segala arah. Seperti ingin dimuntahkan saja segala isinya ke lantai. Aih, aku buru-buru beranjak dari kamar tidur menuju kamar mandi.
Aku memilih kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah, dekat dapur. Di sanalah ketenangan buang air dapat kurasakan, terkadang ada saja pemikiran-pemikiran brilian yang muncul selepas berkutat masalah perut di sana. Tetesan air yang berirama membawa suasana makin syahdu. Berdinding keramik-keramik tua berwarna biru laut yang khas menjadikannya sebagai terapi mataku juga dikala suntuk. Dan alasan lainnya ialah karena kloset kamar mandinya jongkok. Cocok betul untuk ukuran orang-orang Asia sepertiku. Hahaha.
Setelah membuka seluruh pakaian bawah yang menempel, kini posisiku sudah mantap untuk melakukan pelepasan. Aku baru ingat sudah tiga hari aku tidak melakukannya. Maklum, saking sibuknya bermacet-macet ria di jalanan ibukota dengan polusi di mana-mana, membuat sedikit banyak ampas-ampas di dalam perutku bertransformasi menjadi gas yang busuk.
Pekerjaan ini menjadi tidak lagi mudah dan senyaman yang kukira. Percobaan pertamaku gagal. Kalau kata teman-temanku di salah satu milis ternama, aku pasti dibilang ”gagal pertamax, Gan!”. Maka aku tak mau gagal untuk percobaan kedua. Aku memulainya dengan menarik napas panjang. Cara ini terbilang ampuh untuk saat-saat menyusahkan seperti sekarang.
Perlahan aku berkonsentrasi membuat sebuah titik pandang di antara warna keramik yang membiru laut. Lalu dengan tangan yang sembari memijit-mijit perlahan perutku, aku mulai memfungsikan pernapasan perut. Bagiku ini akan lebih mengena bagi perut yang tak mau diajak kompromi. Pemicu akibat pernapasan itu membuat perutku bergejolak, terombang-ambing, berkontraksi, bahkan berkonfrontasi dengan anggota tubuhku yang lain.
Tak ketinggalan pula erangan sekuat tenaga dan seikhlas hati kukeluarkan dari mulut, ”Eeeeee’!”. Dan... Plossshhhh. Ledakkan eksplosif pertama telah berhasil kukeluarkan dengan susah payah. Rasa lega dan puas sedang menghiasi wajahku, sama seperti wajah Sekutu saat berhasil membom atom Hiroshima dan Nagasaki. Haaaaah. Lega. Benar-benar lega.
Ledakan kuat-bertenaga itu kurasakan terlalu berlebihan sampai-sampai membuatku merasa pusing. Dalam kepusingan dan posisi yang masih berjongkok, aku mencoba memejamkan mataku sejenak, menyandarkan kepalaku pada tanganku yang menyilang di atas lutut, lalu tanpa bisa sadar aku pingsan dalam keadaan jongkok.
***
Aku terbangun beberapa saat setelah kepusingan tadi. Aku masih merasakan sedikit pusing, meskipun perutku sudah damai sentosa. Napasku tersedak tatkala melihat asap-asap tebal masuk melewati celah-celah pintu kamar mandi.
Dengan cekatan aku mengambil gayung untuk membersihkan hadas-hadas yang mungkin masih tertinggal di sekitar anusku. Setengah terburu-buru aku mencoba meraih celanaku yang kusampirkan di pintu kamar mandi. Aku memakainya agak asal-asalan sebab tak tahan dengan asap yang mulai mengitari ruangan sempit ini.
Dugdugdugdug! Aku mencoba membuka pintu, tapi pintu sulit sekali terbuka. Aku kembali mengerang saat mendobrak pintu dengan paksa, hasilnya, pintu terbuka hingga terlepas dari engselnya. Aku terperosok ke atas pintu yang terjatuh. Asap-asap mengepul, abu-abu beterbangan ke mana-mana akibat ulah dobrak paksa yang kulakukan.
”Uhuk-uhuk! Huek!”, aku terbatuk-batuk hampir muntah, tak kuat rasanya menahan asap bercampur abu yang masuk melalui area pernapasanku. Sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung, aku mulai bangkit. Aku mulai melihat sekitar. ”Innalillahi! ”, teriakku dalam hati. Tiada lagi tembok-tembok pembatas yang membelah antara ruangan di rumahku dengan jalan. Terlihat samar-samar ratusan orang berjejal mengitari rumahku.
Kepalaku yang tadinya hanya mengarah pada satu sudut pandang, dengan hati-hati mengamati keadaan sekitarku berlawanan dengan arah jarum jam. Kulihat memang tidak ada lagi pembatas, tembok-tembok rumahku roboh semua. Kecuali satu yang masih utuh. Ya, kamar mandi yang sempat aku pakai tadi, hanya itu.
Jantungku berdetak kencang menyadari keadaan ini. Setengah menit kemudian aku terkesiap, mulai kalap mencari orang-orang rumah. Ayah, ibu, serta adik-adikku. Dalam reruntuhan aku mencari mereka. Namun semuanya hanya abu, abu, dan abu lagi. Aku menyingkirkan material-material bangunan yang hangus demi mencari secercah harapan, atau barangkali tanda-tanda kehidupan.
Betul saja, aku menemukan tangan, sepertinya tangan ibu. Aku pegang erat-erat lalu kutarik. Hah! Setengah duduk karena terpental aku masih memegangi tangan tanpa badan itu. Ku pandangi betul-betul tangan itu, dari ujung kuku yang menggosong hingga pada bagian siku yang meneteskan darah. Semangatku mencari harapan-harapan terhadap keluargaku yang lain pupus seketika. Inilah kekalahan telak dalam hidupku setelah kehilangan segalanya. Seorang prajurit yang telah dilucuti senjatanya dan harus kehilangan rekan-rekan serta komandannya dalam perang adalah aku.
Jakarta, 20 Maret 2011
Selasa, 28 Juni 2011
Hanya Sekadar Berbagi-Esai untuk Pengajuan Beasiswa
Sastra Indonesia Sebagai Pilihan yang Penuh Pertimbangan[1]
"And in life, it is all about choices we make. And how the direction of our lives comes down to the choices we choose." -Catherine Pulsifer, from HONESTY. . . A Core Value?-
Kehidupan menghadirkan pilihan-pilihan yang pada akhirnya harus kita tentukan melalui sebuah keputusan. Keputusan yang terciptapun bukan berarti tanpa pertimbangan. Seperti halnya pernyataan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan haruslah berdasarkan pada apa yang kita sukai. Sebab akan menjadi bumerang bagi kita apabila telah memilih yang ingin kita kerjakan, namun tidak menuruti keinginan yang ada di dalam hati kita. Begitu pula pertimbangan yang saya ambil ketika memilih untuk meneruskan studi saya dari jenjang sekolah menengah atas (SMA) menuju perguruan tinggi. Saya menelusuri keinginan hati saya, memikirkan dampak-dampak dari pilihan-pilihan yang hendak saya buat. Hingga pada akhirnya saya bertemu dengan salah seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia angkatan 2008 yang kini menjadi senior saya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya-Universitas Indonesia (FIB-UI). Pertemuan yang cukup singkat itu diwarnai dengan diskusi seputar kehidupan kampus Universitas Indonesia dan pilihan jurusan, khususnya sastra Indonesia.
Mengenai penjelasannya yang cukup singkat dan padat, ada satu hal yang hingga kini masih membinarkan kedua mata saya, yakni filologi, salah satu peminatan yang terdapat pada jurusan Sastra Indonesia. Ketertarikan saya pada filologi oleh karena bidang ini menjadikan naskah-naskah klasik sebagai objek dari penelitiannya. Naskah klasik yang diteliti pun berkisar pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Aksara yang digunakan dalam naskah klasik ialah aksara Jawi (Arab-Melayu), hal itu menyebabkan saya semakin tertarik dengan filologi serta pernaskahan klasik Indonesia karena saya senang mempelajari penulisan pegon (Arab-Jawa) secara otodidak. Pikir saya waktu itu akan menjadi suatu kemudahan tersendiri sebab sudah terbiasa dengan penulisan pegon, sehingga saya hanya tinggal mengasah pengetahuan tentang aksara Jawi. Selain karena faktor filologi, faktor lainnya ialah keyakinan bahwa akan lebih mudah memelajari dan akan bermanfaat bagi bangsa Indonesia jika ada pemudanya yang secara sadar mau belajar kesusastraan Indonesia.
***
Hal yang saya impikan ketika resmi diterima sebagai mahasiswa program studi Indonesia di Universitas Indonesia ialah saya akan belajar dan menyelesaikan studi saya secepat mungkin, yakni 3,5 tahun. Setelah itu ada tiga pilihan rencana universitas yang telah saya buat untuk tujuan saya setelah lulus, yaitu Universitas Leiden di Belanda, Universitas Bonn di Jerman, dan Universitas Monash di Australia. Seperti yang kita ketahui, Universitas Leiden menyimpan koleksi naskah-naskah klasik Indonesia dan perlu diakui juga bahwa koleksinya merupakan yang terbanyak di dunia, bahkan mengalahkan koleksi yang ada di Indonesia. Universitas ini saya rasa sangat cocok untuk lebih mengembangkan minat saya di bidang filologi. Mengingat pula banyak para tokoh kesusastraan hebat yang pernah lahir dari universitas tersebut, seperti Andreas Teeuw.
Selanjutnya saya menjatuhkan pilihan rencana pada Universitas Bonn, Jerman, oleh karena saat di SMA saya mempelajari bahasa Jerman. Saya optimis bisa memelajari/ mengasah kembali bahasa Jerman untuk membantu saya jika nanti saya berkuliah di Universitas Bonn. Pemilihan Universitas Bonn sebagai tujuan studi saya tak lain ialah karena dipengaruhi tokoh sastrawan terkenal dari Jerman, yaitu Nietzche yang belajar filologi dan teologi di sana. Setidaknya jika saya berkesempatan kuliah di Bonn, saya masih bisa sesekali mengunjungi Universitas Leiden—mengingat negara Jerman berbatasan langsung dengan negara Belanda.
Pilihan rencana terakhir ialah Universitas Monash, Australia. Mengapa Australia? Karena saya terinspirasi oleh dosen kesusastraan FIB UI, yakni Ibnu Wahyudi yang pernah melanjutkan studi pascasarjananya di Universitas Monash, Australia. Selain itu, kedua orangtua saya pun juga memberikan saran pada saya agar menjadikan Australia sebagai negara tujuan untuk membina hidup kelak. Menarik memang ketika mengetahui bahwa di Australia pelajaran bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang wajib dipelajari oleh murid-murid sekolah dasar.
Semua rencana tersebut saya buat bukan tanpa tujuan dan alasan. Banyak orang dan hal-hal di sekeliling saya yang mengilhami saya untuk membuat rencana-rencana tersebut. Namun yang utama ialah suntikan motivasi dari keluarga. Saya yang merupakan anak kedua dari 7 bersaudara ini bercita-cita untuk sukses pada bidang yang saya geluti sekarang—Sastra Indonesia, dan berniat membawa serta seluruh keluarga saya membangun hidup di luar negeri, entah Belanda, Jerman atau Australia. Melalui bidang ini pun saya berkeyakinan mampu memperkenalkan budaya Indonesia yang berupa naskah klasik sebagai nilai-nilai budaya yang penting untuk dipelajari oleh seluruh penduduk dunia, khususnya masyarakat Indonesia. Seringkali saya berkaca pada negara-negara maju, sebut saja Jerman, yang hingga kini bisa tetap modern namun tidak kehilangan identitas budayanya. Dengan memelajari cara mereka melestarikan budayanya, maka saya yakin pula dapat melakukan sumbangsih yang sama terhadap bangsa Indonesia.
Untuk melancarkan rencana-rencana yang saya jabarkan di atas, kini hidup saya jauh lebih tertata dan diisi dengan aktivitas-aktivitas yang pada hakikatnya menunjang studi dalam rangka mempersiapkan diri menuju dunia global. Sejak awal semester satu saya telah bergabung dengan komunitas Markas Sastra. Banyak hal yang bisa saya dapat dari komunitas ini melalui diskusi-diskusi serta kegiatan-kegiatan dalam ranah kesusastraan. Pada akhir semester kedua, saya pun dinobatkan sebagai ketua Markas Sastra untuk satu tahun periode 2011/2012. Saya juga terlibat aktif dalam redaksi majalah terbitan program studi Indonesia, yaitu “Gaung” sebagai reporter. Selain itu pada pertengahan bulan Juni 2011, ayah saya mengajak saya menghadiri konsultasi bahasa Inggris gratis di MH. Thamrin oleh English for Success. Secara mengejutkan, di akhir konsultasi, saya didaftarkan untuk menjadi peserta les pada tempat tersebut. Inilah yang menjadi batu loncatan saya agar bisa mengembangkan pula kemampuan dalam berbahasa Inggris. Sehingga pada akhirnya saya pun dapat mewujudkan cita-cita saya kelak.
[1] Judul Esai sebagai persyaratan pengajuan Beasiswa Tanoto Foundation 2011 oleh Abimanyu Isranto, mahasiswa Program Studi Indonesia angkatan 2010 dengan NPM 1006699064.
Langganan:
Postingan (Atom)
Bila malam belum habis
"aku akan terus menulisbukan karena semata-matakeinginanku sendirimelainkan karena tuntutanjiwaku untuk terus dan tetapmewarnai setiap jengkaldunia sastra:aku berpijak di sana"