tentang ide

Dan aku tidak akan lagi percaya pada ide dari cerita-cerita lainnya

Kamis, 15 Mei 2014

                                                                                             Wilayah D, 15 Mei

     Ketika semuanya berjalan tidak sebagaimana biasa, kau berjalan tergopoh-gopoh. Hendak menyelesaikan sesuatu yang seharusnya dimulai lebih dulu jauh-jauh hari. Sementara aku memang tidak akan mampu menyusulmu. Bukan berarti kau dalam kondisi yang sekarang pantas mengulur yang sejauh ini telah kau rangkai. Namun, memang bukan jalanmu untuk menunda suatu pekerjaan yang kelak dapat mengganggu mimpimu. Mungkin ada benarnya juga perkataan Soe, "kita berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta." Yah walaupun kini aku ragu pada apa yang sebenarnya menjadi persamaan di antara kita.
     Mungkin satu persamaan yang jelas adalah hidup kita lebih dari sekedar manusia biasa menjalani kehidupan. Kita hidup untuk kehidupan itu sendiri dalam cita-cita memberikan kebahagiaan untuk diri sendiri. Dan hal yang demikian masih sangat sulit dimengerti kebanyakan orang, bukan?


                                                  Salam.

Selasa, 13 Mei 2014

                                                                                                      Wilayah D, 13 Mei


     Manusia tidak akan pernah memahami betul persoalan kematian. Begitu juga saya. Sepertinya sulit keinginan untuk merayakan kematian terwujud jika masih menganggap kematian sebagai makhluk pengganggu. Aku masih lebih cinta pada kehidupan. Sebab begitu banyak persoalan yang belum selesai. Walaupun tujuan hidup buatku sudah jelas, belum menyelesaikan apapun.


                                         Salam.

Senin, 12 Mei 2014

                                                                                                Wilayah D, 12 Mei


     Hari ini semua terasa begitu liarnya. Entah siapa yang beranjak menjadi lebih liar; aku atau orang lain. Yang jelas kehidupan tidak bisa terus-menerus semisal karang. Sekalipun diterjang ombak, manusia harus mampu berpikir kreatif dan keluar dari segala persoalan.
     Kehidupan berjalan tidak sehat. Perlu suatu perubahan dalam waktu belakangan ini, Minke. Bahwa tubuh manusia bukan mesin aku setuju. Dan manusia perlu istirahat untuk fisik, juga mentalnya. Tidak bisa selalu hidup tanpa sejenak tidak memikirkan apa-apa.
     Ada suatu ide yang sebenarnya hendak aku laksanakan. Ini soal penjelajahan di saat pulas. Menghidupi kehidupan saat raga tertidur pulas. Aku mendapat suatu penjelasan bahwa hal yang semacam ini yang mungkin pernah terjadi pada zaman nabi dulu. Ketika beranjak pergi melintas langit tujuh lapis. Tidak mungkin dilakukan oleh raga ditambah ruh. Ruh harus merelakan raga tertinggal agar bisa terbang ke atas sana.
     Agaknya itu suatu cita-cita di kemudian hari. Aku masih selalu takut untuk meninggalkan raga. Takut terlalu asyik masyuk sampai-sampai lupa. Belum tentu orang lain tahu bahwa ruhku sedang bermain-main, 'kan? Suatu kali dulu pernah aku hampir merasakan penjelajahan semisal itu. Ketika suasana kampus masih sepi pagi, aku tidur di salah satu tempat favoritku untuk tidur. Udara pagi begitu mengerti perasaan manusia yang lelah. Dan aku tertidur dalam hening; tanpa bising. Ada saat ketika mataku menyipit menengadah ke arah langit dan sinar lembut matahari. Seolah ruh hendak berpamit pada tubuh, nafasku mulai sesak saat itu. Tubuh ini terasa ringannya sampai-sampai mau ikut terbang. Setidaknya begitulah yang aku rasakan.
     Bedanya dengan penjelasan temanku adalah saat itu aku tidak merasai suatu bising di telinga. Kebisingan seharusnya terjadi lebih dulu sebelum ruh berpisahan dengan raga. Itu pertanda kalau sedang terjadi perpindahan frekuensi alam kehidupan dan alam kehidupan-khusus-ruh. Sebagai penutup, di alam itu ruh dapat berubah bentuk sesuai dengan kondisi kepribadian kita, Min. Menantang untuk dicoba bukan? Sekali waktu aku mau melakukan itu sekadar ingin menjenguk Kembang Salju saja. Tak lebih.

                   Salam.

Minggu, 11 Mei 2014

                                                                                                        Wilayah D, 11 Mei 

     Apa aku terlalu bodoh ketika harus mengambil peran dalam sandiwara ini? Sandiwara yang di akhir ceritanya tidak pernah bisa dibayangkan dalam pikiran yang tenang. Ketika segala yang tertiup angin tipis harus diganti dengan terjangan angin kencang. Dan aku tidak akan pernah lagi percaya pada suatu ide dari cerita-cerita lainnya.
     Terlalu mudah untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja, Minke. Bahwa ragaku sehat mungkin iya. Sayangnya, anggur dalam botol kacaku belum cukup tua untuk menyenangkan semua orang yang cinta akan daku. Hari-hari demikian gaib kesenangannya. Terkadang aku melakukan begitu banyak hal melebihi biasanya dan aku tidak merasai apapun. Begitukah suatu kewajaran yang dapat diterima dalam setiap akal sehat?
     Berikanlah sedikit doa penghiburan untukku, Minke. Biar setiap nyala mesin dan gerak selalu bertemu. Biar segala permainan tunduk kembali dalam peraturannya.
     Semoga tiada suatu penghalang bagimu untuk berbalas surat denganku. Salam dariku, Tuan Muda Minke.


                                                                                                        Ritter von Hastinapura

Kisah 910 di 452014

                "Akhirnya kita akan tiba pada suatu hari yang biasa.
                 Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui..." (Gie)

     Memang begitu adanya hari-hari ini berganti sebagaimana biasa. Mungkin juga kemarin-kemarin adalah sama dalam cara bumi berputar dan saling mengganti antara terang dan gelap. Kemanusiaan dan manusia-lah yang dinamis berikut nilai-nilai di dalamnya. Apalagi selepas mengikuti rangkaian Badan Khusus Pelantikan Mapala UI 2013.
     Pada pukul satu dini hari seluruh Mapala Tanpa Nomor berhenti di tepian danau. Orang mengenalnya dengan nama Situ Gunung. Kawasan wisata alam yang berada di Sukabumi. Bintang-bintang tak lagi malu menampakkan dirinya dan langit berwarna biru pekat. Tiada awan pengganggu, yang ada hanya siluet-siluet dari jajaran pohon yang mengelilingi. Pohon-pohon menjulang yang tak bisa dikenali. Angin berhembus tipis sesekali, mencoba membangunkan mereka yang hendak lelap. Atau justru membuat mereka jauh merasa nyaman di tempat duduknya.
     Beberapa orang dari satu kelompok kecil perjalanan mulai dipanggil dan naik ke perahu karet. Mirip kisah-kisah lama yang bercerita tentang danau larangan cara kami dijemput. Dari tepian yang satu perahu mengantarkan ke tepian lain; tempat persiapan, katanya. Kemeja-kemeja berwarna biru langit dibungkus plastik rapih. Di setiap plastiknya tertera nama masing-masing.
     Dari baju tracking yang dekil kami berganti dalam setelah rapih kemeja biru langit dan bawahan putih. Perahu mulai beranjak pergi mengatarkan beberapa orang yang telah lama bersiap diri. Mereka tampak begitu berbeda dari kesehariannya. Hari itu (4/5) memang telah diduga-duga oleh para MTN--singkatan Mapala Tanpa Nomor--sebagai hari bersejarah dalam kehidupan mereka. Setelah mendayung sejauh 15 meter, tampak beberapa MTN yang sudah sampai lebih dulu sedang berbaris rapih berbanjar. Di depan mereka ada barisan anggota Mapala aktif, beberaa perangkat acara, dan bendera merah-putih serta bendera Mapala UI. Kesemuanya itu menjadi kesatuan dalam pancaran lampu tembak yang menggantung di dahan pohon. Di sisi kiri bendera ada lagi para orang tua berbaris bersaf.
     Malam begitu heningnya dan bintang-gemintang gemerlapan. Angin mendesir semilir mempertanyakan kesiapan masing-masing. Di penghujung pembacaan nomer anggota M-baru, M-863-UI berpesan agar jangan lulus sebelum berekspedisi. Suatu tantangan yang demikian langsungnya diberikan kepada M-baru.
     Bet Mapala UI telah menempel tegak di lengan atas sebelah kiri, dan nama sudah ditambahi embel-embel nomor M-910-UI. Akan ada banyak tantangan ke depan di tengah perjalanan waktu yang biasa.

--Ritter, M-910-UI-- 

Sebuah Tanya dari Penanya

                  Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
                  Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui [...]
                                                 "Sebuah Tanya" - Soe Hok Gie


     Manusia tidak selamanya dan melulu tahu setiap jengkal persoalan. Terkadang mereka sendiri bingung tentang siapa diri mereka dan ke mana arah tujuan hidup mereka. Namun satu yang pasti, "hidup harus lebih dari sekedarnya", kata Budi Laksmono (alm.). Mungkin itu juga yang membawa saya sampai pada hari ini. Ketika semuanya kini sudah menjadi hari yang biasanya. Menghirup udara sebagaimana biasa, beraktivitas sebagaimana biasa. Masih dapat berbicara dengan sebarang orang dan sebarang waktu bercanda tawa dengan leluasa.
     Mungkin orang berpikir saya tidak pernah dalam suatu kesulitan yang berarti. Mereka salah sebab manusia sama-sama memiliki persoalan dan masalahnya masing-masing. Dan yang menang adalah yang mampu mengatasi persoalan mereka.
     Kalau dulu saya berjalan atas nama diri sendiri dengan segala kemampuan yang dianugerahkan Tuhan. Kini saya punya tanggung jawab lebih sebagai mahasiswa pencinta alam Universitas Indonesia. Lebih menjadi manusia sebagaimana dahulu saya pernah menjadi manusia yang sekedarnya. Menantang diri sendiri, menantang alam namun tetap dalam jalur kerendahan hati dan itu bagian yang tersulit. Dan orang-orang di sekitar kelak akan sebegitu menantang dengan pertanyaan-pertanyaan mereka yang mempertanyakan status saya.
      Setelah dilantik akan berbuat apa? Harus melulu pertanyaan itu yang dimunculkan di kepala namun harus selalu diimbangi dengan perbuatan. Perenungan yang konstan menghasilkan suatu kesia-siaan belaka.

--Ritter, M-910-UI--

Kamis, 05 September 2013

“Tak Bisa Berhenti Sekarang”: Sebuah Kejujuran

            Lirik lagu sebermulanya berawal dari karsa, rasa, dan cipta manusia. Dari seluk beluk pedalaman penciptanya. Ia serupa dengan puisi (bila tak berlagu), sebab mencipta rentetan kata ke dalam baris dan bait, yang bermakna tersirat atau pun tersurat. Dan segala bentuk penciptaan itu sejatinya bermuara pada sebuah kejujuran pedalaman pula.
            --Dalam ini tulisan, lagi-lagi lirik lagu menjadi sebuah sorotan. Tulisan ini menjadi yang kedua bagiku untuk menerjemahkan secara bebas suatu hasil kebudayaan asing.--
            Aku hendak memberi sedikit kejelasan akan pemilihan lirik lagu ini.
            Semula aku tak begitu paham tentang apa yang sebenarnya “tak bisa berhenti sekarang”. Judul lirik lagu yang cukup membuat penasaran—pikirku. Kemudian aku dengarkan secara berulang-ulang lagu ini. Tak sepenuhnya paham. Kucari pada lirik lagunya. Dan inilah lirik lagu “Can’t Stop Now” karya grup musik Keane.


KEANE – “Can’t Stop Now”

I noticed tonight that the world has been turning
While I've been stuck here dithering around
Though I know I said I'd wait around till you need me
But I have to go, I hate to let you down
But I can't stop now
I've got troubles of my own
Cause I'm short on time
I'm lonely
And I'm too tired to talk

I noticed tonight that the world has been turning
While I've been stuck here withering away
Though I know I said I wouldn't leave you behind
But I have to go, it breaks my heart to say

That I can't stop now
I've got troubles of my own
Cause I'm short on time
I'm lonely
And I'm too tired to talk

To no one back home
I've got troubles of my own
And I can't slow down
For no one in town
And I can't stop now

And I can't slow down
For no one in town
And I can't stop now
For no one

The motion keeps my heart running
The motion keeps my heart running
The motion keeps my heart running
The motion keeps my heart running


Membacai lirik lagu sembari mendengarkan lagunya adalah cara yang baik untuk mendekati ke arah pemaknaan atau penerjemahan. Lirik lagu yang terdiam tanpa iringan musik diperbantukan oleh nada-nada indah yang mampu juga mewujudkan kejujuran isi lirik lagu. Perlu juga bantuan kamus, kepekaan rasa, pun nalar terhadap keadaan yang coba diwujudkan dalam lirik itu.
            Hasil dari kepekaan rasa, nalar yang dibantu kamus dan iringan musik dari lagu aslinya adalah sebuah terjemahan berikut.


Terjemahan: “Tak Bisa Berhenti Sekarang”

Aku melihat malam ini, dunia telah berubah
Sementara aku terjebak di sini, bergemetar
Meskipun aku sadar telah berkata akan menanti hingga kau membutuhkanku
tapi aku harus pergi, aku benci mengecewakanmu
tapi aku tak bisa berhenti sekarang
Ada masalahku sendiri
dan lagi waktuku tak banyak
Aku kesepian
dan terlalu lelah untuk berbicara

Aku melihat malam ini, dunia telah berubah
Sementara aku terjebak di sini, meluruh
Meskipun aku tahu telah berkata takkan meninggalkanmu sendiri
tapi aku harus pergi, ini menghancurkan hatiku untuk mengatakan

Bahwa aku tak bisa berhenti sekarang
Ada masalahku sendiri
dan lagi waktuku tak banyak
Aku kesepian
dan terlalu lelah untuk berbicara

kepada siapa pun saat kembali
Ada masalahku sendiri
Dan aku gusar
pada siapa pun di kota
Dan aku tak bisa berhenti sekarang

Dan aku gusar
pada siapa pun di kota
Dan aku tak bisa berhenti sekarang
untuk siapa pun

Gerak melajukan hatiku
Gerak melajukan hatiku
Gerak melajukan hatiku
Gerak melajukan hatiku

            Pada soalnya, lirik tersebut menceritakan keadaan seseorang (“aku”) dalam kesadaran multi yang saling bertentangan. Lagi-lagi dibicarakan persoalan cinta di dalamnya.
            Kesadaran multi yang saling bertentangan itu,
            Pertama, sadar bahwa dunia berubah, tetapi keadaan “aku” tak ubahnya orang yang diam (terjebak oleh keadaan masa lalunya).
            Kedua, sadar bahwa dahulu telah melontarkan janji yang pada akhirnya mesti digugurkan sendiri.

                        “Meskipun aku sadar telah berkata akan menanti hingga kau membutuhkanku
                                tapi aku harus pergi, aku benci mengecewakanmu...”

                                “Meskipun aku tahu telah berkata takkan meninggalkanmu sendiri
                                tapi aku harus pergi, ini menghancurkan hatiku...”

            Ketiga, sadar akan permasalahan sendiri yang menanti untuk diselesaikan sehingga harus mengorbankan janji yang terlebih dulu telah diucapkan.

            Lirik lagu tersebut mengajak khalayak penikmatnya untuk menyadari betapa manusia yang digugat untuk “menanti” seseorang, pada saatnya akan tersadar pada kegentingan-kegentingan lain yang telah lama menunggunya. Egoisme manusia muncul (Ada masalahku sendiri/ dan lagi waktuku tak banyak) sebab kesadaran memilih dan memilah kegentingan hidup.
            Lirik tersebut mencoba menjelaskan dengan sangat kepada sasaran, yakni “orang yang dijanjikan” betapa keadaan “aku” benar-benar telah sampai pada batas yang penghabisan. Jikalau “orang yang dijanjikan” menghendaki “aku” agar kembali pada jalur penantiannya agaknya menjadi hal yang sia-sia. Penegasan itu terperikan dalam baris: Dan aku tak bisa berhenti sekarang/ untuk siapa pun.
            Semoga terjemahan bebas kedua ini dapat membantu khalayak pembaca untuk lebih bermatang-matang dalam memilih dan memilah. Semata-mata agar tak bersesalan dalam menentukan laju kehidupan—terutama cinta; “patut dinanti lagi” atau “cukupkan pintu kesempatan”.

Bila malam belum habis

"aku akan terus menulis
bukan karena semata-mata
keinginanku sendiri
melainkan karena tuntutan
jiwaku untuk terus dan tetap
mewarnai setiap jengkal
dunia sastra

:aku berpijak di sana"